Copyright © 2010-2013

Musicography




Dimas Ario lahir di Jakarta pada 6 September 1982. Sewaktu kecil, ia banyak mendengarkan lagu-lagu dari koleksi orang tuanya, antara lain lagu-lagu dari Cliff Richard, Andy Williams, Bee Gees, The Carpenters, Nat King Cole, Vina Panduwinata dan masih banyak lagi.

Awal persinggungannya dengan dunia musik dimulai saat ia menjadi anggota ensamble di bangku kelas 3 SD. Di Ensamble tersebut, Dimas memegang beberapa alat musik seperti pianika, suling recorder dan angklung.

Di bangku SD, Dimas sempat kursus organ. Namun tidak lama ia memutuskan untuk berhenti karena ia tidak menikmatinya. Ketika ia duduk di kelas 5, Dimas membeli gitar akustik pertamanya. Ia lalu belajar gitar secara otodidak dengan membaca buku dan juga mendengarkan banyak lagu.

Saat duduk di bangku SMP, Dimas mulai bermain band. Di dalam band, Dimas tidak memilih gitar sebagai instrument yang dimainkannya. Ia malah memilih bermain bass karena saat itu ia pikir, tidak banyak teman-teman seusianya yang secara khusus mempelajari bass.

Dimas lalu mengikuti kursus bass secara privat. Selama beberapa tahun ia tekun mempelajari instrumen berdawai rendah tersebut yang kemudian membawanya mengenal dan lalu mencintai musik-musik dari Jaco Pastorius, Level 42 dan Casiopea.

Saat duduk di bangku SMA, Dimas mulai menyukai musik britpop yang kemudian membawanya lebih jauh lagi ke dalam dunia musik indie pop. Grup-grup indie pop seperti Blueboy, Beaumont dan Belle and Sebastian adalah beberapa favoritnya.

Kecintaannya pada musik tidak hanya dilampiaskan dengan bermain band saja. Ia juga kerap membuat mixtape (saat itu masih dalam format kaset) yang kadang ia bagikan ke teman-teman terdekat dan juga untuk ia dengarkan sendiri.

Dimas memiliki gairah yang sangat besar untuk selalu mendengarkan berbagai musik yang ia belum pernah ketahui. Saat duduk di bangku SMA, ia kerap datang ke toko kaset dan memboyong kaset-kaset dari musisi atau band yang belum pernah ia dengar musiknya berdasarkan referensi dari majalah-majalah musik yang ia baca saat itu.

Di bangku kuliah, Dimas mulai menulis lagu sendiri yang kemudian ia publikasikan melalui bandnya, Ballads of the Cliche. Ballads of the Cliche sendiri merilis debut mini album di tahun 2003, setelah itu merilis beberapa ep dan juga sebuah album penuh.

Pada periode kuliah ini, Dimas mulai rajin untuk menulis blog. Awalnya ia menulis berbagai topik, namun tetap topik terbesar yang ia tulis adalah musik.

Kemampuan menulisnya ini kemudian semakin terasah saat ia bekerja untuk pertama kalinya sebagai seorang editor musik di sebuah majalah terbitan Bandung bernama Jeune. Dimas juga sempat menjadi editor untuk sebuah majalah seni dan gaya hidup, Still Loving Youth yang sayangnya memiliki umur pendek.

Kecintaannya dalam membuat mixtape pun masih berlanjut. Namun seiring perubahan jaman, ia tidak lagi membuat mixtape dalam format kaset. Format CD dan lalu mp3 menjadi medium baru bagi Dimas dalam membuat mixtape.

Di tahun 2008, Dimas membagikan mixtape pertamanya ke publik melalui blognya. Tanggapan publik saat itu sangat positif. Pada akhirnya, sejak saat itu hingga kini Dimas kerap membuat mixtape untuk lalu menyebarkannya melalui internet.

Tahun 2010, Dimas membuat sebuah blog baru yang ia dedikasikan penuh terhadap dunia musik. Blog ini ia namakan Madah Bakti yang namanya diambil dari buku nyanyian umat Katolik yang biasa digunakan pada setiap misa di gereja. Kini buku Madah Bakti tidak lagi digunakan dalam ibadat umat Katolik karena telah digantikan oleh buku terbitan baru bernama Puji Syukur.

Bulan Mei 2012, Dimas mengundurkan diri dari Ballads of the Cliche. Karena ia merasa tidak lagi memiliki gairah yang besar sebagai musisi.

Setelah tidak lagi menjadi musisi dalam sebuah band, Dimas masih berkutat di dalam dunia musik yang dicintainya namun keberadaannya kini lebih banyak di belakang layar. Seperti menulis press release untuk band, menjadi inisiator event musik dan menjadi blogger musik serta pembuat playlist untuk beberapa brand terkemuka antara lain Sampoerna A, XL Axiata, Air Asia, Nokia dan juga untuk beberapa cafe, restoran dan hotel.

Di sela-sela kesibukannya tersebut, ia masih menyempatkan datang ke pertunjukkan-pertunjukkan musik lokal, berkelana di rimba raya internet untuk mencari musik-musik yang belum pernah ia dengar dan tentunya ia masih menikmati untuk merangkai lagu-lagu yang ia sukai ke dalam sebuah mixtape.

0 comments:

Poskan Komentar