Copyright © 2010-2013
Jumat, 30 Desember 2016

Dimas Ario's Favorite Songs of 2016

2016 adalah tahun yang paling sering dijadikan kambing hitam oleh netizen. Sudah banyak media yang memvonis 2016 sebagai tahun terburuk di berbagai aspek terutama sosial, politik.

Lalu bagaimana dengan 2016 di dunia musik? Apakah juga menjadi tahun terburuk?

Yang pasti banyak kesedihan di dunia musik yang terjadi tahun ini dengan mangkatnya para penyanyi dan musisi senior. Walaupun begitu 2016 telah mengajarkan para musisi bagaimana #pergidengankarya itu jauh lebih elegan dibandingkan #balasdengankarya. Album perpisahan dari David Bowie dan Leonard Cohen telah membuat para pecinta musik sudah harus bersiap jika suatu saat nanti Paul McCartney, Brian Wilson dan Bob Dylan akan melakukan hal yang sama.

Bagaimanapun, 2016 tidaklah menjadi tahun terburuk untuk musik.


Di dunia musik Amerika Serikat a.k.a internasional, 2016 menghasilkan beberapa standar baru yang mungkin bisa jadi acuan ke depannya. Di 2016, tanggal rilis album yang diumumkan ke publik menjadi sebuah kebiasaan yang usang yang mulai ditinggalkan oleh beberapa musisi yang lebih memilih untuk rilis album secara tiba-tiba suddenly. Ada Beyonce yang memperdengarkan album barunya melalui kompilasi video musik yang tayang di HBO, lalu Frank Ocean yang juga merilis sebuah "album visual" di suatu malam secara tiba-tiba sebagai teaser untuk album barunya Blonde yang dirilis pada pekan yang sama serta Radiohead yang menghapus semua post di media sosial mereka sebagai penanda dirilisnya album terbaru.

2016 juga menjadi tahun kemunculan kembali bagi para musisi atau grup musik yang telah 'vakum karya' selama belasan tahun seperti The Avalanches (16 tahun), A Tribe Called Quest (18 tahun) dan American Football (17 tahun).

Tahun ini juga menjadi tahun yang baik untuk Hip Hop, Soul dan RnB melalui rilisan-rilisan yang bisa dikatakan sejauh ini menjadi rilisan terbaik sepanjang karir mereka. Contohnya seperti kakak beradik, Beyonce dengan Lemonade dan Solange dengan A Seat at the Table, lalu juga Frank Ocean dengan Blonde.

Sementara itu di dunia musik dalam negeri, 2016 menjadi tahun yang cukup menyegarkan. Salah satu yang bersinar tahun ini ialah kolektif pencipta lagu Laleilmanino yang terdiri dari Nino dari RAN serta Lale dan Ilman dari Maliq & D'Essentials yang membuat musik Pop Indonesia arus utama saat ini memiliki kualitas yang baik. Jejak mereka dapat disimak pada lagu-lagu terbaru dari Rio Febrian, Maudy Ayunda, HIVI, Vidi Aldiano hingga Armand Maulana.

Nama-nama lama di musik Pop Indonesia arus utama seperti Raisa, Tulus, Tompi dan Ran merilis album baru di 2016. Selain mereka, rasanya tidak banyak lagi musisi arus utama yang merilis album. Karena mereka kini lebih memilih untuk merilis satu lagu saja sebagai single. Contoh sukses merilis single di 2016 ada pada Anji dengan "Dia" yang merupakan lagu Indonesia yang paling banyak diputar di YouTube selama 2016 sekaligus menjadi lagu resmi pengamen jalanan tahun ini. Lalu ada juga Dipha Barus dengan "No One Can Stop Us" yang menjadi anthem baru di lantai dansa serta HIVI dengan "Pelangi" yang mendapat rotasi tinggi di berbagai radio sekaligus sukses dalam rangka mengenalkan vokalis baru mereka.

Pengaruh 80an yang melanda dunia musik Pop internasional dalam kurun waktu dua tahun terakhir akhirnya melanda di Indonesia. Tahun ini, lagu terbaru dari Lala dan juga Calvin Jeremy terasa sangat 80an.

2016 juga menjadi teaser untuk para penyanyi Pop pendatang baru yang mungkin akan bersinar kelak, seperti Randy Pandugo dan Gloria Jessica.

Pada musik dalam negeri arus pinggir, 2016 adalah tahun yang sangat menggairahkan untuk Hip Hop. Seperti yang sudah banyak dibahas, tahun ini Hip Hop banyak mendapat sorotan terutama dengan kepopuleran Rich Chigga dan Young Lex. Akibatnya, bermunculan di permukaan nama-nama MC dan produser lokal lainnya yang mungkin selama ini hanya dikenal terbatas di komunitas Hip Hop. Nama-nama yang mencuat sepanjang 2016 antara lain, kolektif Zero One dengan Laze, Mack'G, Roy Ricardo, dll, kolektif Underground Bizniz Club dengan rappernya seperti Matter, Tuantigabela$, Sonjah, lalu Cul De Sac Collective dengan produser Yosugi serta rapper dari Jayapura, Joe Million dan Rand Slam.

Kota Bandung yang dalam lima tahun terakhir rasanya sepi-sepi saja, tahun ini mulai kembali bising dengan kehadiran band-band seperti Collapse, Heals, Fuzzy, I, Uncanny, Pipepole. Di tahun ini juga Bandung menelurkan pelantun dan pencipta lagu muda yang patut diantisipasi pergerakannya di masa depan seperti Bin Idris, Oscar Lolang, Wangi Gitaswara, Mustache and Beard, dan Jims Adrian.

Sementara di JABODETABEK, banyak sekali bermunculan band-band baru yang ditempa di berbagai micro gig yang tersebar dari Bekasi, Bogor hingga Tangerang. Beberapa micro gig yang berjalan cukup rutin di 2016 antara lain Pop Core, Indikasi, berbagai acara dari We Hum Collective, Swin666er Party, We Need More Room.

Selain micro gig tersebut, panggung-panggung pertunjukkan besar yang menampilkan musisi atau band arus pinggir juga terasa menawan sepanjang tahun 2016 yang dimulai dengan megah oleh konser Sinestesia Efek Rumah Kaca dan diakhiri dengan khidmat oleh Konser Tanah Air dari Senyawa. Sepanjang tahun 2016 juga diisi oleh rentetan pertunjukan folk yang diinisasi oleh Felix 'Folk' Dass yang diadakan di Teater Kecil dan IFI.

Di luar itu semua, 2016 juga menyisakan kisah sedih untuk kancah indepeden lokal dengan bubarnya duo Banda Neira dan band indie rock underrated, Cause. Sebuah langkah berani yang perlu dihargai daripada hidup terus namun malah semakin tak bernyawa.

Karena banyak musik yang saya nikmati sepanjang 2016 ini maka pada tahun ini untuk pertama kalinya saya membuat dua playlist untuk masing-masing lagu internasional dan lagu dalam negeri. Jadi total playlist lagu favorit tahunan untuk 2016 ada empat playlist.

Untuk playlist internasional secara khusus saya membuat playlist lagu-lagu Hip Hop, Soul RNB favorit karena banyaknya rilisan di genre tersebut yang saya nikmati tahun ini. Playlist internasional yang satu lagi berisi lagu-lagu Pop, Jazz, Indie rock favorit.

Sementara itu untuk playlist dalam negeri, playlist A menampilkan lagu-lagu Pop yang radio-friendly sedangkan playlist B menampilkan lagu-lagu favorit dari para musisi dan band arus pinggir tanah air.

Karena konsumsi musik kita kini sudah berubah, saya tidak lagi menyediakan tautan untuk mengunduh playlist seperti tahun-tahun sebelumnya. Kini playlist bisa didengarkan via streaming di Apple Music dan Spotify. Untuk beberapa lagu Indonesia yang tidak tersedia di kedua platform, saya berikan tautan YouTube dan Soundcloudnya.

Selamat mendengarkan dan terima kasih 2016 atas musik-musik yang hebat.



Dimas Ario's Favorite Internasional Songs of 2016 (disusun bukan berdasarkan peringkat terfavorit)

Side A

1.     Cranes in the Sky – Solange
2.     Black Man in a White World – Michael Kiwanuka
3.     Reality Check - Noname feat. Eryn Allen 
4.     Bus in These Streets – Thundercat
5.     The Big Big Beat – Azealia Banks
6.     Untitled 8 | 09.06.2014 – Kendrick Lamar
7.     We the People... – A Tribe Called Quest
8.     Cosmic Love – Mayer Hawthrone
9.     Kiss It Better – Rihanna
10. Fat Night – Sun Go Down
11. Too Good – Drake feat. Rihanna
12.  Redbone – Childish Gambino
13.  Best to You – Blood Orange
14.  Pyramids – Common
15.  Pink + White - Frank Ocean
16.  The Dreamer – Anderson. Paak feat. Talib Kweli & Timan Family Choir
17.  Blessings – Chance the Rapper
18.  Father Stretch My Hands, Pt.1 – Kanye West
19.  Exodus – De La Soul
20.  Hey (Extended Mix) – KING





Side B

1.     Raxeira – Bibio
2.     Colours – The Avalanches
3.     07:41 – Still Parade
4.     The Halfwit in Me – Ryley Walker
5.     Brunch With Suki – Mark Barrot
6.     Skiptracing – Mid High Club
7.     Seven Words – Weyes Blood
8.     Impossible Hand – Stephen Steinbrink
9.     Fool – Frankie Cosmos
10. Versace On The Floor – Bruno Mars
11. Esperanza Spalding – Earth to Heaven
12.  Winter Sublet – Sea Span
13.  Audio Pono – Feed Me Jack
14.  Your Best American Girl – Mitski
15.  Those Were the Days – Angel Olsen
16.  Suddenly – Drugdealer feat. Weyes Blood
17.  Lost Dreamers – Mutual Benefit
18.  In The Morning I’ll Be Better – Tennis
19.  Early to the Party – Andy Shauf
20.  Foxes Don’t Lie – Giorgio Tuma feat. Matilde Davoli




Dimas Ario's Favorite Local Songs of 2016 (disusun bukan berdasarkan peringkat terfavorit)

Side A

1.     No One Can Stop Us – Dipha Barus feat Kalula
2.     Hanya Engkau Yang Bisa – Armand Maulana
3.     A Night to Remember – Lala
4.     Penantian Berharga – Rizky Febian
5.     Ruang Sendiri – Tulus
6.     Tebar Pesona – Tompi feat Rayi
7.     If It’s For You – TheOvertunes
8.     Letting You Go – Raisa
9.     Pelangi – HiVi
10. Pura Pura – Bakhes
11. Misteri Tentang Rasa – Andira
12. Berkunjung ke Kotamu – The Rain
13. Brighter as One – Alexa
14. I Don’t Care – Randy Pandugo
15. Dunia Maya – Ari Lasso
16. Can’t Stop – RAN
17. Catatan Kecil – Adera
18. Dia Tak Cinta Kamu – Gloria Jessica
19. Kita – Calvin Jeremy
20. Sampai Nanti - Radhini



Side B

1. Crown of Roses – Duta Pamungkas
2. Rhymes of Adorer – Ray Magus
3. Given – Collapse
4. Rainy Days on the Sidewalk – Mondo Gascaro
5. Walking Back Home – Vira Talisa
6. Whispering (All the Colours) – Peonies
7. Bias – Markamerah
8. Kalapuna – Danilla
9. Temaram – Bin Idris
10. Gerimis – Wangi Gitaswara
11. Point of View – Shadowplay
12.  Ujian – Dialita
13.  Eastern Man – Oscar Lolang
14. Mala Renjana – Jims Adrian
15. Ingin Dekatmu – Indische Party
16. Merdeka – Efek Rumah Kaca
17. Hujan Kemarau – Mustacha and Beard






Rabu, 11 Mei 2016

Ada Apa Dengan Lagu Cinta dan Rangga?

Jadi kemarin sewaktu membuka YouTube, saya mendapat rekomendasi video ini:



Di tengah gegap gempita promosi AADC 2 oleh berbagai partner dan sponsor yang memenuhi semua penjuru media sosial, saya pikir video ini salah satu branded content yang berhasil. Diproduksi oleh media partner, Fimela Network, video ini menampilkan perbincangan antara Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang saling bertanya mengenai hal apapun yang menyangkut karakternya masing-masing, mulai dari dessert kesukaan Cinta hingga musik yang kira-kira didengar Rangga.

Pada perbincangan ini terungkap berbagai hal yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh Nicho dan Dian terhadap karakter masing-masing. Dari semua topik yang disinggung dalam video itu, saya tertarik pada pertanyaan terakhir: lagu-lagu seperti apa yang biasa didengarkan seorang Rangga? Jawabannya Nicho, Rangga yang seorang anti mainstream dan anti kemapanan, akan lebih mengapresiasi lagu-lagu yang memiliki keberpihakan terhadap isu-isu humanis, anti perang dsb yang banyak mewarnai lagu-lagu berbau politik di era 60an dan 70an. Saya langsung kebayang jelas lagu-lagu apa yang akan mengisi playlist Rangga ini.

Sementara bagaimana dengan lagu-lagu yang didengarkan Cinta? Dalam video tersebut tidak disebutkan. Dari deskripsi Dian di video terhadap sifat-sifat Cinta, antara lain gaul namun agak mainstream, Cinta yang peduli terhadap omongan dan pikiran orang terhadap dia, agak sulit untuk menerka selera musikal Cinta.
Rabu, 20 April 2016

Mengasuh Program Young Gres! di RURUradio


Mulai bulan lalu, saya bersama istri memulai siaran di RURUradio, sebuah radio kontemporer tanpa gelombang. Kami mengasuh program yang bertajuk Young Gres! Dari namanya mungkin sudah bisa tertebak. Acara ini khusus memutar lagu-lagu baru. Fokusnya untuk saat ini adalah lagu-lagu dari musisi atau band tanah air.

Banyak sekali bibit-bibit baru yang penuh talenta di luar sana namun seringkali luput dari radar. Bisa jadi karena bandnya memang tidak ada upaya untuk promosi atau media lokal tidak banyak yang melakukan pemanduan bakat.

Sekarang ini kegiatan menemukan musik baru mungkin lebih banyak dialami melalui bantuan mesin algoritma yang dimiliki platform music streaming. Biasanya memang akurat, sesuai dengan selera. Namun apa yang terjadi di Indonesia, banyak band baru yang kontennya belum tersedia di platform music streaming. Jadi untuk menemukan mereka, mau tidak mau harus 'manual'.

Jadi program radio seperti Young Gres! ini adalah salah satu cara manual yang dapat menjadi corong alternatif untuk mengenalkan musisi atau band yang belum banyak mendapat sorotan. Terutama untuk band yang belum terjamah mesin algoritma.

Secara spesifik, Young Gres! memutar lagu musisi atau band yang relatif anyar, lagu-lagu demo yang menurut kami potensial dan juga lagu-lagu dari band yang mungkin tidak begitu baru namun belum kencang bergaung.

Selama satu jam, kami memutar lagu dengan diselingi obrolan intim yang biasa saya dan istri lakukan menjelang tidur atau di tengah perjalanan. Jadi mohon maaf kalau obrolannya bisa merembet ke banyak hal dan terasa internal. :D
Selasa, 23 Februari 2016

Kebisingan Anyar dari Tanah Parahyangan


Banyak yang berpendapat bahwa Bandung kini tak lagi menghasilkan band-band baru. Ada juga yang berpendapat kancah musik Bandung sekarang ini tidak ada regenerasi. Pendapat kebanyakan orang itu mengacu pada sejarah manis yang telah digoreskan Bandung yang selalu sukses melahirkan band-band lokal yang dapat berbicara dalam skala nasional maupun internasional.

Namun jika ditelusuri lagi, Bandung dalam periode 10 tahun terakhir ini sebenarnya masih melahirkan gelombang-gelombang musik baru dengan deretan band-band segar yang menjadi penyemaraknya. Walau harus diakui memang sangat sedikit dari banyak band baru tersebut yang akhirnya dapat bergaung kencang di pentas nasional dan internasional. Karena itulah terbentuk asumsi bahwa kancah musik Bandung kini 'teu rame'.

Pada masa Themilo muncul pada awal 2000an, Bandung berangsur-angsur menjadi lautan dream pop dengan munculnya banyak band-band yang memiliki petikan melodi bernada manis yang dihasilkan oleh paduan efek reverb dan chorus gitar yang dibungkus oleh suara synth keyboard yang hangat. Musik-musik dari Themilo, Elemental Gaze, Ansaphone, Ravenina atau Jelly Belly memang cocok dinikmati dalam iklim Bandung yang di kala itu masih sejuk dengan irama kota yang berdenyut dalam gerak lambat.

Setelah gelombang dream pop dilanjutkan dengan gelombang post rock instrumentalia yang masih memiliki kekerabatan erat dengan gelombang sebelumnya. Band-band seperti Under the Bright Yellow Sun, Autumn Ode, Echolight menyajikan musik yang masih menampilkan paduan gitar reverb dan chorus namun kali ini dengan progresi yang lebih dinamis. Struktur lagu memiliki banyak kamar dengan pola yang kian memuncak mendekati akhir lagu. Pada era ini kehidupan Bandung tak lagi pelan dan santai. Udaranya juga kian panas dan setiap akhir pekan jalanan macet tak karuan. Membuat gerah para penghuninya.

Karena itu, ada sebagian anak muda Bandung yang mungkin lelah dengan keadaan kota lalu berusaha untuk menjauh dari pusat dan lebih dekat alam. Para biduan alam seperti Nada Fiksi, Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Deugalih & Folks, Rusa Militan dan teman-teman sejawatnya bercerita mengenai sungai, senja, ilalang, danau, bukit, hutan dan gunung. Inilah masa dimana gelombang musik folk melanda Bandung pada periode 2010-2013.

Sementara para penggiat folk mendekatkan diri ke alam ketika lelah dengan keadaan kota, sebagian lagi ada yang memilih untuk berkumpul di bar-bar kecil yang penuh dengan kepulan asap rokok kretek, rokok putih atau (jika barangnya tersedia) mariyuana. Atau bagi yang tidak suka menghirup asap cukup dengan meminum pilsener dingin. Inilah masa dimana gelombang Stoner Rock Bandung muncul yang diwakili oleh Sigmun, Lizzie, Kaitzr, The Slave, Vrosk dan para kerabatnya. Mereka memainkan distorsi dengan lambat, bertenaga, dalam dan berat yang seakan menjadi teriakan kekecewaan terhadap kota Bandung yang kian kacau.

Memasuki era Ridwan Kamil, Bandung menjadi gemar bersolek, trendi namun juga semakin riuh. Seiring dengan itu, ada letupan-letupan kebisingan dari gerombolan anak muda yang mulai jenuh dengan sekitarnya. Mereka menjadi generasi penerus dari apa yang telah dibangun oleh gelombang dream pop, shoegaze dan post rock para pendahulunya. Digawangi oleh tumpukan distori gitar yang kini sarat oleh raungan fuzz yang agresif seakan mengiringi ritme kota yang juga semakin cepat yang disebabkan oleh Bandung yang terus mempercantik diri.

Kini, mari kita sambut gerombolan kebisingan anyar dari tanah Parahyangan berikut ini:
Senin, 22 Februari 2016

Lagu Indonesia Klasik Yang Tak Lekang Waktu

Pertengahan tahun lalu, seorang musisi jazz mengontak saya. Ia menemukan blog saya ini ketika sedang mencari informasi mengenai lagu-lagu lama Indonesia dari era 50an. Ia tertarik dengan mixtape Renjana dan ingin mencari lagu-lagu sejenis yang dapat ia bawakan ulang. Musisi ini sedang dalam proses untuk memilih lagu-lagu Indonesia klasik dari era 50an yang akan diaransemen ulang dan direkam dalam sebuah album.

Saya sangat antusias begitu mengetahui ada musisi Indonesia yang ingin mendaur ulang lagu-lagu Indonesia klasik dari era yang belum banyak dijamah oleh musisi lainnya. Musik Indonesia 50an yang terakhir sukses didaur ulang oleh musisi jaman sekarang setau saya hanya "Aksi Kucing" yang dulu dinyanyikan oleh Nien Lesmana dan didaur ulang oleh White Shoes and the Couples Company serta "Pergi Tanpa Pamit" yang dipopulerkan oleh Nina Kirana dengan iringan orkes Saiful Bahri yang kemudian didaur ulang oleh Sore menjadi "Pergi Tanpa Pesan".

Sabtu, 02 Januari 2016

Dimas Ario's Favorite International Songs of 2015


Melanjutkan seri lagu-lagu favorit tahunan 2016, kali ini adalah lagu-lagu favorit dari mancanegara. Di list tahun ini ada nama-nama lama yang selalu menjadi favorit pribadi yang akhirnya merilis album baru. Ada juga nama-nama yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya namun lagu-lagu mereka berhasil menyita perhatian telinga sepanjang 2015. 

Lagu-lagu mancanegara dalam list ini yang menjadi oase ketika telinga lelah akan gempuran EDM Pop yang kini kerap berkumandang pada setiap speaker di ruang publik dan juga radio.

Dimas Ario's Favorite Local Songs of 2015


2015 adalah tahun yang sangat dinamis dan menggembirakan untuk dunia musik Indonesia. Lebih menggembirakan, tahun ini ada nama-nama dari Surabaya, Yogyakarta hingga Medan yang merilis karya-karya yang mempesona.

Di tahun ini beberapa album yang sudah dinanti sekian tahun lamanya akhirnya rilis. Ada beberapa nama yang sudah cukup lama berseliweran juga akhirnya merilis debut album penuhnya. Di antara itu ada album yang akhirnya menjadi pencapaian artistik tertinggi sepanjang karir band tersebut. Sebaliknya ada album yang ditunggu namun ternyata kualitasnya tidak sebagus album-album sebelumnya.

Sementara itu ada juga nama-nama baru yang semakin membuat 2015 sarat akan gizi musikal. Ada yang mendapat sorotan dan publikasi berlimpah, ada pula yang namanya tidak begitu bergaung walau musik mereka layak dan sepantasnya didengar oleh lebih banyak orang.

Seperti yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya menyusun lagu-lagu favorit dari para musisi atau band negeri ini yang patut mendapat apresiasi karena kualitasnya bukan karena pengaruh media, hype atau hubungan pertemanan.

Tidak ada rumusan baku bagaimana sebuah lagu dapat dikatakan bagus atau tidak. Ukurannya kembali ke selera dan preferensi masing-masing yang terbentuk dari apa yang telah kita dengar, baca, tonton sejak dulu.

Secara umum, lagu-lagu yang ada di list ini saya bagi dalam tiga ketegori: enak, keren dan indah. Ada beberapa lagu yang mencakup ketiganya. Ada juga yang hanya memiliki satu faktor saja. Tentunya adanya ketiga faktor ini merupakan dalih bagi saya yang terlalu malas untuk menulis deskripsi atau keunggulan dari masing-masing lagu. :D

Selamat mendengarkan!

Jumat, 13 November 2015

(Playlist) Sanchome


Dari dulu saya tidak pernah benar-benar mendalami musik-musik dari Jepang. Hanya sebatas kenal yang populer saja. Seperti banyak anak Indonesia yang lahir di awal 80an, perkenalan pertama saya dengan musik Jepang melalui soundtrack film-film superhero mereka yang saya tonton dengan khusyuk waktu SD. Mulai dari Goggle V, Kamen Rider, Gaban, Ultraman, dan masih banyak lagi.

Duduk di bangku SMP, tepatnya sewaktu jaman tahun-tahun awal kursus bas, saya mengenai Casiopea dan Jimsaku dengan bassist akrobatik yang bernama Tetsuo Sakurai. Lalu di jaman kuliah, saya jadi kenal L'arc-en-Ciel gara-gara tetangga sebelah kamar di kos adalah penggemar berat mereka. Di jaman kuliah juga saya mengenal scene Shibuya-kei dengan deretan artistnya seperti Pizzicato Five, Fantastic Plastic Machine, Cornelius, Cibo Matto, Kahimi Karie,

Selain nama-nama tersebut, rasanya saya tidak pernah secara khusus mengulik musik-musik Jepang lainnya. Beberapa nama sempat dengar dan cocok di telinga namun tanpa pernah cari tahu lebih dalam.
Jumat, 17 April 2015

Seni Ketidakmungkinan

Sebagai generasi millenial, saya dan kalian semua yang lahir  di awal 80an hingga awal 2000an, pasti terbiasa dengan apa yang namanya multitasking. Apa yang kita lakukan sehari-hari dengan smartphone saja sudah termasuk multitasking. Misalnya sambil ngescroll timeline social media, sambil dengar lagu dan sesekali jawab chat.


Senin, 30 Maret 2015

Soundtrack Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa


Peran lagu dalam film adalah salah satu unsur penting yang dapat membuat sebuah gambar bergerak menjadi lebih hidup. Lagu-lagu soundtrack yang baik tidak hanya yang lekat dalam ingatan penonton, namun juga dapat memberi nyawa pada film.

Dalam sejarah film Indonesia, sudah banyak lagu soundtrack yang meraih kepopuleran yang sama dengan filmnya. Namun ada juga beberapa soundtrack yang secara artistik bagus namun tidak cukup populer di masyarakat. 

Berikut ini adalah sepuluh lagu soundtrack film Indonesia terbaik menurut saya. Lagu-lagu ini sebagian besar dibuat khusus untuk film. Ada juga lagu populer yang telah ada sebelumnya namun secara khusus didaur ulang untuk keperluan film. 

Terbaik tidak melulu terlaris, namun terbaik di sini adalah lagu-lagu soundtrack yang memiliki pengaruh besar untuk dapat menghidupkan scene-scene tertentu atau filmnya secara keseluruhan.