Lagu-Lagu Terbaru Bulan Ini Dari Lima Album Yang Layak Diantisipasi

Inilah beberapa lagu terbaru dari album-album yang patut diantisipasi dalam bulan ini dan beberapa bulan ke depan.

Klik judul lagu untuk mengunduh.

s / s / s - Museum Day


Sufjan Stevens kembali meneruskan kegemaran terbarunya terhadap musik Hip Hop, setelah terakhir ia muncul dalam album Undun dari band hip hop The Roots dan juga pada remix Bunch 65 untuk lagu "You Are the Blood" Kini ia berkolaborasi dengan rapper asal Chicago, Serengeti dan juga musisi eksperimental Son Lux dalam sebuah grup yang bernama s/ s/ s. Lagu ini adalah lagu pertama yang dirilis dan akan ada dalam ep mereka Bleak & Caw. "Museum Day" menyuguhkan beat-beat elektronik yang banyak muncul dalam album terakhir Sufjan, The Age of Adz ditambah dengan vokal autotune ala Cheer dan rapper T-Pain. Sepertinya gaya vokal autotune ini juga menjadi kegemaran Sufjan terbaru.

Debut ep Bleak & Caw akan dirilis pada 24 Maret 2012.


Rocket Juice and the Moon - Hey Shooter


Ini adalah lagu pertama yang dirilis ke publik dari proyek musikal lainnya dari Damon Albarn yang kali ini bekerjasama dengan bassist Flea dari Red Hot Chilli Peppers dan drummer Tony Allen, yang dikenal sebagai drummer musisi legenda, Fela Kuti. "Hey Shooter" adalah perwujudan terbaik dari Damon, Flea dan Tony saat bermain musik bersama. Penuh ritmis yang membuat badan bergoyang dengan menyusupkan nuansa psikadelik serta funk yang kental. Musik yang rancak tersebut disempurnakan oleh alunan vokal soulful dari Erykah Badu.

Debut album Rocket Juice and the Moon akan dirilis pada 26 Maret 2012.


Belle and Sebastian  - Crash (The Primitives cover)


Belle and Sebastian kembali menjadi kurator dari seri kompilasi Late Night Tales. Ini adalah kali kedua mereka menjadi kurator dalam kompilasi ini setelah pertama di tahun 2006. Selain menampilkan lagu-lagu dari berbagai musisi, Late Night Tales selalu dihiasi dengan lagu-lagu daur ulang dari musisi yang menjadi kurator. Kali ini Belle and Sebastian memilih lagu hits "Crash" milik grup asal Inggris, The Primitives. "Crash" di tangan Belle and Sebastian menjadi lebih pop folk dengan tempo yang lebih pelan dari versi aslinya.

Album Late Night Tales akan dirilis pada 26 Maret 2012.




Arcade Fire - Abraham's Daughter


Lagu ini adalah lagu yang khusus diciptakan Win Butler dan kawan-kawan di Arcade Fire untuk film The Hunger Games yang diangkat dari novel berjudul sama. Dalam sebuah wawancara vokalis Win Butler menjelaskan bagaimana proses ketika menciptakan lagu ini. “I tried to put myself in the headspace of how excited I’d be if this film was coming out when I was 15. I still remember hearing Radiohead’s ‘Exit Music (for a Film)’ in Romeo + Juliet when I was that age.” Lagu "Abraham's Daughter" dinyanyikan oleh vokalis wanita Arcade Fire, Regine Chassagne. Dengan alunan snare drum ala militer dan suara angelic, lagu ini terdengar syahdu dan megah.

Album soundtrack The Hunger Games menampilkan juga The Decemberist, Neko Case dan Glen Hansard akan dirilis tanggal 20 Maret 2012.


Beach House - Myth


Duo asal Baltimore, Amerika Serikat, Beach House kembali dengan lagu terbarunya, setelah terakhir merilis album Teen Dream dua tahun yang lalu. Lagu "Myth" ini akan ada dalam album mereka yang telah diantisipasi oleh banyak orang. Lagu "Myth" masih memiliki sentuhan khas duo ini, yakni alunan keyboard yang berputar-putar, suara gitar yang bergaung serta vokal misterius dari Victoria Legrand. Dengan lagu ini, Beach House membawa nostalgia dan keindahan yang membuat kita kembali teringat akan alasan mengapa kita mencintai mereka.

Album Bloom akan dirilis bulan 15 Mei 2012.

Video Interaktif dari Chairlift

Duo asal Brooklyn, New York yang dulu terkenal dengan lagu "Bruises" yang ada dalam iklan iPod Nano kemarin merilis sebuah video musik interaktif. Video musik ini untuk lagu mereka yang berjudul "Meet Before" yang ada dalam album teranyar Something yang dirilis akhir Januari 2012.

Dalam video ini, kita sebagai penonton dapat menentukan jalan cerita pada video dengan menekan dua tombol yang tersedia pada kiri dan kanan layar.

Silahkan coba sendiri dan pilih ceritamu. :D

 

 

 

 



The Pains of Being Pure at Heart, kuartet dari New York Yang Bersahaja


Belum lama ini saya menulis soal band Inggris, Yuck yang musiknya terdengar sangat Amerika. Bertolak belakang dengan hal itu, di New York, Amerika Serikat ada sebuah band yang musiknya terdengar sangat Inggris. Namanya The Pains of Being Pure at Heart.

Mereka baru saja mengadakan konser di Jakarta pada hari Jumat (2/3) bertempat di Balai Sarbini, Plaza Semanggi.


The Pains of Being Pure at Heart, yang nama bandnya diambil dari sebuah buku cerita anak, terbentuk di tahun 2007 di Brooklyn, New York. Terdiri dari Kip Berman (vokal & gitar), Peggy Wang (keyboard dan vokal), Alex Naidus (bass) dan Kurt Feldman (drum).


Banyak kalangan berpendapat musik mereka seperti menghidupkan kembali musik-musik dari berbagai grup indie pop di Inggris pada era ’80 hingga ’90-an.

Di Amerika Serikat pada periode tersebut dipenuhi oleh berbagai band besar yang sangat berpengaruh seperti Nirvana, Smashing Pumpkins dan Sonic Youth. Yang menjadi pertanyaan, mengapa para personil The Pains of Being Pure at Heart yang tumbuh besar di Amerika tidak terpengaruh dengan musik-musik Amerika?

“Saya tidak anti terhadap musik Amerika. Hanya saja band-band Amerika lebih banyak berteriak sedangkan suara saya tidak seperti itu,” kata Kip sang vokalis sambil tertawa.

Dari segi musikal, The Pains of Being Pure at Heart juga banyak terpengaruh dari ramuan bunyi yang bising ala Sonic Youth dan juga musik rock yang solid seperti The Smashing Pumpkins. Kip menjelaskan bahwa ia tidak ingin The Pains of Being Pure at Heart dikenal hanya sebagai band indie pop yang terpengaruh band-band Inggris saja. Musikalitas mereka lebih luas dari itu.

Lebih lanjut, Kip bergurau juga soal stereotipe personil band indie pop yang lemah lembut, selalu mengenakan sweater dan memakan cupcakes. The Pains of Being Pure at Heart harusnya dapat mendobrak batasan musikal dan semua stereotipe yang ditunjukkan kepada mereka.

Dalam sesi wawancara itu dibahas juga mengenai pandangan umum publik yang menyebut The Pains of Being Pure at Heart sebagai band hipsters yang kaitannya dengan kota mereka tinggal, New York. Ketika ditanya soal hal ini, Kip kembali bergurau dan berkata bahwa mungkin orang-orang salah memanggil nama dia. Harusnya Kip jadi Hip.

Pada kenyataannya, Kip mengaku bahwa ia berharap bisa sekeren para hipsters New York. “Sejauh ini tidak ada model yang jalan bareng kami dan tidak ada orang-orang juga yang meminta foto bersama di jalan, “ kata Kip.

Salah satu usaha The Pains of Being Pure at Heart dalam mendobrak batasan musikal mereka, yaitu pada album kedua, Belong yang dirilis di tahun 2011 mereka bekerjasama dengan produser Flood yang dikenal sukses dalam menangani nama-nama besar seperti The Smashing Pumpkins, U2, The Killers dan masih banyak lagi.

Hasilnya, musik The Pains of Being Pure at Heart dalam album Belong terdengar lebih riuh dan megah dengan produksi yang rapi. Album Belong benar-benar menunjukkan bahwa The Pains of Being Pure at Heart bukanlah tipikal band indie pop yang manis.

Setelah memiliki dua album yang keduanya banyak menuai pujian kini The Pains of Being Pure at Heart tinggal memantapkan aksi panggung mereka dengan memperbanyak jam terbang. Tahun 2012 ini mereka pertama kali tur ke Asia. Setelah bermain di Singapura, Hongkong dan Filipina akhirnya mereka bermain di Indonesia.

Malam itu, The Pains of Being Pure at Heart baru naik pentas cukup larut, pukul 11. Mereka membuka dengan “This Love Is Fucking Right” yang diambil dari debut album di tahun 2009. Setelah itu berturut-turut mereka memainkan hits dari album kedua, “Belong” dan “Higher Than The Stars”



Tidak banyak komunikasi dari mereka kepada penonton malam itu. Hanya ucapan terima kasih dari Kip dan juga oleh satu-satunya personil wanita dalam band, Peggy Wang.

Setelah konser usai, Kip dengan santai berjalan menuju area penonton yang tentunya segera disambut oleh para penonton yang mengajaknya foto bersama. Akhirnya Kip meladeni semua permintaan tanda tangan dan juga foto bersama dari para penggemarnya.

Sebuah pemandangan yang jarang kita temui saat band mancanegara mengadakan konser di sini.

The Pains of Being Pure at Heart pun membuktikan bahwa mereka bukan hipsters yang keren ataupun bintang rock yang banyak tingkah. Mereka hanya pemuda dan pemudi yang mencintai musik dan beruntung dapat memainkan musik mereka ke banyak orang di berbagai belahan dunia.

*semua foto oleh Dave Andiputra

The Smiths vs Lana Del Rey - This Charming Video Game (mashup)



Seperti yang sudah banyak diketahui, penyanyi pop flamboyan dan kharismatik asal Inggris, Morrissey akan datang ke Indonesia untuk konser yang akan diselenggarakan pada bulan Mei 2012 mendatang. Tepat hari ini, tiket konser sudah dijual resmi.

Bagi para penggemarnya menyaksikan Morrissey ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Penantian belasan atau puluhan tahun lamanya pada akhirnya akan menuai kebahagiaan di bulan Mei nanti.
Morrissey mengawali karirnya di tahun 1982 sebagai vokalis grup musik The Smiths. Berarti tahun ini tepat 30 tahun sudah karir bermusiknya.

Kebetulan pagi ini, tanpa sengaja saya menemukan sebuah video yang tajuknya, The Smiths vs Lana Del Rey - This Charming Video Game (mashup). Mashup ini dibuat oleh Reborn Identity yang merupakan moniker dari produser musik spesialis mashup bernama Gavin Burrel.


Mashup sendiri adalah sebuah lagu atau komposisi yang menggabungkan dua atau lebih lagu yang berlainan menjadi kesatuan lagu baru.

Saya sempat ragu, apakah mashup ini antara The Smiths dan Lana Del Rey ini akan berhasil. Mengingat karakter masing-masing lagu yang sangat berbeda.

Lana Del Rey ialah bintang pop baru yang namanya kian bersinar di industri musik sekarang ini. Lagu Lana yang dimashup ini, “Video Game” adalah singel debutnya yang dirilis di bulan Oktober 2011 lalu.

Sementara lagu The Smiths yang dimashup “This Charming Man” pertama kali dirilis di bulan Oktober 1983. Dan menjadi salah satu hits terbesar dari The Smiths sepanjang karirnya.

Semua keraguan saya seketika sirna saat saya memutar video ini. Vokal sengit Morrissey di “This Charming Man” mengalun wajar di antara alunan musik yang kelam di “Video Game”

Tampilan visual dalam video yang juga menggabungkan video musik resmi kedua lagu pun sungguh selaras.

Mashup ini sangat berhasil hingga membuat saya sekilas berpikir bahwa lagu ini adalah versi “This Charming Man” yang tidak pernah dirilis selama ini.

Kedua lagu yang memiliki jarak umur 29 tahun ini seakan-akan seperti menemukan jodohnya. 


Klik kanan di link ini untuk mengunduh lagunya.

Senyawa, Duo Eksperimental asal Yogyakarta


Satu lagi grup musik Indonesia yang namanya kian harum di kancah internasional. Kali ini dari sebuah grup etnik/eksperimental bernama Senyawa.


Senyawa terbentuk pada 2010 dan terdiri dari Rully Shabara, yang sebelumnya vokalis band eksperimental rock Zoo dan juga Wukir Suryadi, seorang musisi etnik/tradisional asal Malang.

Grup ini dibentuk secara tidak sengaja. Awalnya Wukir hanya spontan berkolaborasi dengan Rully di atas panggung dalam sebuah acara yang diadakan oleh label dari Yogyakarta, Yes No Wave. Mereka tidak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya. Dua bulan setelah penampilan kolaborasi dadakan tersebut, mereka berdua memutuskan untuk merekam materi karya mereka bersama.

Akhirnya pada bulan September 2010, album debut Senyawa yang berisi enam komposisi dirilis di bawah Yes No Wave.

Enam komposisi lagu dalam album tersebut memadukan elemen rock eksperimental yang merepresentasikan sisi musikal Rully yang dipadankan dengan elemen tradisional yang eksotis yang dihasilkan oleh instrumen musik buatan Wulir sendiri — yang ia beri nama Bambuwukir dan Serunai.

Setelah album tersebut dirilis, mereka mulai mendapat undangan untuk bermain di festival musik mancanegara. Hingga saat ini mereka telah tampil pada Melbourne International Jazz Festival 2010, the Mona Foma Festival 2012 dan Adelaide Festival 2012.

Saat ini  mereka tengah merampungkan album kedua yang rencananya akan dirilis terbatas. Album kedua Senyawa akan diproduksi sebanyak 200 keping dalam bentuk piringan hitam lalu 50 keping dalam bentuk CD yang kemasannya dibuat oleh tangan dan juga disertai T-shirt.

Untuk memproduksi semua itu mereka membutuhkan dana yang cukup besar. Anda dapat menjadi donatur untuk album kedua mereka ini. Semakin besar donasi Anda, semakin lengkap juga paket dari album kedua Senyawa yang akan Anda miliki. Untuk keterangan lengkapnya, silahkan kunjungi halaman ini.

Dan untuk mendownload gratis album perdana mereka, silakan kunjungi website Yes No Waveini.

Jangan menilai buku dari sampulnya. Contoh kasus: Yuck



Meski ungkapan “Jangan menilai buku dari sampulnya” sudah sering saya dengar, tetap saja aturan itu saya langgar ketika mendapati sampul album milik band baru bernama Yuck pada awal 2011. Sampul album itu sama sekali tidak menarik perhatian saya.



Saya juga tidak ingin mendengarkan materi album mereka, meski band ini mulai dibahas banyak media. Hingga pada pertengahan Februari 2012, saya membaca tulisan tentang penampilan Yuck di festival Laneway di Singapura. Penampilan mereka dinilai memukau — seperti kesaksian teman saya yang ada di Laneway. Meski lagunya tak familiar, kata teman saya itu, Yuck sangat menarik ditonton.

Dengan berbekal ulasan yang positif dari penampilan mereka, akhirnya saya mencoba mendengarkan album debut dari grup asal Inggris ini. Dan hasilnya? Saya jatuh cinta.




Album ini menyuguhkan 50 menit yang akrab dan hangat. Rasanya seperti mendapat teman baru namun sudah kenal lama. Beberapa nama grup band dan musisi yang mewakili suara khas musik rock Amerika di era ‘90an seperti Pavement, Dinosaur Jr, Smashing Pumpkins, Sonic Youth, Yo La Tenggo hingga Elliot Smith, menghiasi album dari band asal Inggris ini.

Namun Yuck membawa semua nama itu untuk menjadi bumbu penyedap dari musik yang telah mereka ramu sendiri.

Saya tidak bosan mendengar album ini dari awal hingga akhir. Mereka pintar dalam menyusun urutan lagu dalam album. Menempatkan lagu pembuka yang menghentak melalui "Get Away", lalu tahu persis kapan saat telinga lelah digempur raungan distorsi dengan menghadirkan lagu-lagu yang lebih pop dan tidak lebih agresif seperti "Shook Down"dan "Suicide Policeman."

Pada akhirnya album ini ditutup dengan "Rubber", sebuah simfoni bebunyian berdurasi 7 menit yang membius dengan bising dan epik.

Yuck adalah contoh band revival yang sukses. Mereka sukses membawa kembali nafas musik indie rock ’90-an ala Amerika yang diolah menjadi musik baru yang terdengar solid dan menyegarkan.

Di bawah ini video dari salah satu lagu mereka yang paling ramah di telinga "Georgia".



Yuck - Georgia from Yuck on Vimeo.


Kalau ingin mengunduh album penuhnya secara ilegal, silahkan klik sampul album di atas.


Justin Timberlake Memparodikan Bon Iver di SNL


Seperti yang sudah diduga, Bon Iver berhasil memenangkan Grammy Awards 2012. Ia memenangkan kategori Best New Artist dan juga Best Alternative Music Album.

Bon Iver kini sah mengikuti jejak Arcade Fire sebagai “band-indie-yang-albumnya-mendapat-respon-positif-lalu-jadi mainstream-setelah-mendapat Grammy”

Ke-mainstream-an Bon Iver kini semakin nyata ketika sosok Justin Vernon diparodikan di acara komedi terkemuka, Saturday Night Live (SNL.) Tidak tanggung-tanggung, yang memparodikan musisi asal Wiscontin ini adalah bintang pop Justin Timberlake.


Dalam parodi episode ini, mengetengahkan isu bayi Beconce dan Jay Z yang bernama Blue Ivy yang ceritanya sedang diperkenalkan kepada teman-teman pasangan tersebut yang terdiri dari berbagai musisi terkenal. Antara lain, Prince, Nicki Minaj, Taylor Swift dan terakhir Bon Iver.

Bon Iver yang diperankan dengan menyakinkan oleh Justin datang paling terakhir. Lalu ia berucap, “Sorry I’m late., I was just wandering barefoot in the woods of wisconsin, fashioned this guitar out of a canoe, and I wrote a song for your baby.”

Beyonce yang diperankan oleh bintang senior SNL, Maya Rudolph lalu mau menolak Bon Iver ketika ia mau bernyanyi karena sudah waktunya untuk menidurkan bayi Blue Ivy. Namun Bon Iver berucap, “Trust me, it will help”

Akhirnya Bon Iver pun menyanyikan lagu “Holocene” yang telah diplesetkan liriknya hingga ia sendiri tertidur ketika menyanyikan.

Sungguh adegan tersebut sangat mengundang tawa. Sungguh menggelikan.  Kamu harus menyimaknya sendiri.

*update: video sudah dihapus oleh pengunggah karena tidak memiliki ijin resmi dari NBC yang menyiarkan Saturday Night Live.



 
Creative Commons License
This blog is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.