Copyright © 2010-2013
Rabu, 11 Mei 2016

Ada Apa Dengan Lagu Cinta dan Rangga?

Jadi kemarin sewaktu membuka YouTube, saya mendapat rekomendasi video ini:



Di tengah gegap gempita promosi AADC 2 oleh berbagai partner dan sponsor yang memenuhi semua penjuru media sosial, saya pikir video ini salah satu branded content yang berhasil. Diproduksi oleh media partner, Fimela Network, video ini menampilkan perbincangan antara Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang saling bertanya mengenai hal apapun yang menyangkut karakternya masing-masing, mulai dari dessert kesukaan Cinta hingga musik yang kira-kira didengar Rangga.

Pada perbincangan ini terungkap berbagai hal yang mungkin belum pernah terpikirkan oleh Nicho dan Dian terhadap karakter masing-masing. Dari semua topik yang disinggung dalam video itu, saya tertarik pada pertanyaan terakhir: lagu-lagu seperti apa yang biasa didengarkan seorang Rangga? Jawabannya Nicho, Rangga yang seorang anti mainstream dan anti kemapanan, akan lebih mengapresiasi lagu-lagu yang memiliki keberpihakan terhadap isu-isu humanis, anti perang dsb yang banyak mewarnai lagu-lagu berbau politik di era 60an dan 70an. Saya langsung kebayang jelas lagu-lagu apa yang akan mengisi playlist Rangga ini.

Sementara bagaimana dengan lagu-lagu yang didengarkan Cinta? Dalam video tersebut tidak disebutkan. Dari deskripsi Dian di video terhadap sifat-sifat Cinta, antara lain gaul namun agak mainstream, Cinta yang peduli terhadap omongan dan pikiran orang terhadap dia, agak sulit untuk menerka selera musikal Cinta.
Rabu, 20 April 2016

Mengasuh Program Young Gres! di RURUradio


Mulai bulan lalu, saya bersama istri memulai siaran di RURUradio, sebuah radio kontemporer tanpa gelombang. Kami mengasuh program yang bertajuk Young Gres! Dari namanya mungkin sudah bisa tertebak. Acara ini khusus memutar lagu-lagu baru. Fokusnya untuk saat ini adalah lagu-lagu dari musisi atau band tanah air.

Banyak sekali bibit-bibit baru yang penuh talenta di luar sana namun seringkali luput dari radar. Bisa jadi karena bandnya memang tidak ada upaya untuk promosi atau media lokal tidak banyak yang melakukan pemanduan bakat.

Sekarang ini kegiatan menemukan musik baru mungkin lebih banyak dialami melalui bantuan mesin algoritma yang dimiliki platform music streaming. Biasanya memang akurat, sesuai dengan selera. Namun apa yang terjadi di Indonesia, banyak band baru yang kontennya belum tersedia di platform music streaming. Jadi untuk menemukan mereka, mau tidak mau harus 'manual'.

Jadi program radio seperti Young Gres! ini adalah salah satu cara manual yang dapat menjadi corong alternatif untuk mengenalkan musisi atau band yang belum banyak mendapat sorotan. Terutama untuk band yang belum terjamah mesin algoritma.

Secara spesifik, Young Gres! memutar lagu musisi atau band yang relatif anyar, lagu-lagu demo yang menurut kami potensial dan juga lagu-lagu dari band yang mungkin tidak begitu baru namun belum kencang bergaung.

Selama satu jam, kami memutar lagu dengan diselingi obrolan intim yang biasa saya dan istri lakukan menjelang tidur atau di tengah perjalanan. Jadi mohon maaf kalau obrolannya bisa merembet ke banyak hal dan terasa internal. :D
Selasa, 23 Februari 2016

Kebisingan Anyar dari Tanah Parahyangan


Banyak yang berpendapat bahwa Bandung kini tak lagi menghasilkan band-band baru. Ada juga yang berpendapat kancah musik Bandung sekarang ini tidak ada regenerasi. Pendapat kebanyakan orang itu mengacu pada sejarah manis yang telah digoreskan Bandung yang selalu sukses melahirkan band-band lokal yang dapat berbicara dalam skala nasional maupun internasional.

Namun jika ditelusuri lagi, Bandung dalam periode 10 tahun terakhir ini sebenarnya masih melahirkan gelombang-gelombang musik baru dengan deretan band-band segar yang menjadi penyemaraknya. Walau harus diakui memang sangat sedikit dari banyak band baru tersebut yang akhirnya dapat bergaung kencang di pentas nasional dan internasional. Karena itulah terbentuk asumsi bahwa kancah musik Bandung kini 'teu rame'.

Pada masa Themilo muncul pada awal 2000an, Bandung berangsur-angsur menjadi lautan dream pop dengan munculnya banyak band-band yang memiliki petikan melodi bernada manis yang dihasilkan oleh paduan efek reverb dan chorus gitar yang dibungkus oleh suara synth keyboard yang hangat. Musik-musik dari Themilo, Elemental Gaze, Ansaphone, Ravenina atau Jelly Belly memang cocok dinikmati dalam iklim Bandung yang di kala itu masih sejuk dengan irama kota yang berdenyut dalam gerak lambat.

Setelah gelombang dream pop dilanjutkan dengan gelombang post rock instrumentalia yang masih memiliki kekerabatan erat dengan gelombang sebelumnya. Band-band seperti Under the Bright Yellow Sun, Autumn Ode, Echolight menyajikan musik yang masih menampilkan paduan gitar reverb dan chorus namun kali ini dengan progresi yang lebih dinamis. Struktur lagu memiliki banyak kamar dengan pola yang kian memuncak mendekati akhir lagu. Pada era ini kehidupan Bandung tak lagi pelan dan santai. Udaranya juga kian panas dan setiap akhir pekan jalanan macet tak karuan. Membuat gerah para penghuninya.

Karena itu, ada sebagian anak muda Bandung yang mungkin lelah dengan keadaan kota lalu berusaha untuk menjauh dari pusat dan lebih dekat alam. Para biduan alam seperti Nada Fiksi, Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Deugalih & Folks, Rusa Militan dan teman-teman sejawatnya bercerita mengenai sungai, senja, ilalang, danau, bukit, hutan dan gunung. Inilah masa dimana gelombang musik folk melanda Bandung pada periode 2010-2013.

Sementara para penggiat folk mendekatkan diri ke alam ketika lelah dengan keadaan kota, sebagian lagi ada yang memilih untuk berkumpul di bar-bar kecil yang penuh dengan kepulan asap rokok kretek, rokok putih atau (jika barangnya tersedia) mariyuana. Atau bagi yang tidak suka menghirup asap cukup dengan meminum pilsener dingin. Inilah masa dimana gelombang Stoner Rock Bandung muncul yang diwakili oleh Sigmun, Lizzie, Kaitzr, The Slave, Vrosk dan para kerabatnya. Mereka memainkan distorsi dengan lambat, bertenaga, dalam dan berat yang seakan menjadi teriakan kekecewaan terhadap kota Bandung yang kian kacau.

Memasuki era Ridwan Kamil, Bandung menjadi gemar bersolek, trendi namun juga semakin riuh. Seiring dengan itu, ada letupan-letupan kebisingan dari gerombolan anak muda yang mulai jenuh dengan sekitarnya. Mereka menjadi generasi penerus dari apa yang telah dibangun oleh gelombang dream pop, shoegaze dan post rock para pendahulunya. Digawangi oleh tumpukan distori gitar yang kini sarat oleh raungan fuzz yang agresif seakan mengiringi ritme kota yang juga semakin cepat yang disebabkan oleh Bandung yang terus mempercantik diri.

Kini, mari kita sambut gerombolan kebisingan anyar dari tanah Parahyangan berikut ini:
Senin, 22 Februari 2016

Lagu Indonesia Klasik Yang Tak Lekang Waktu

Pertengahan tahun lalu, seorang musisi jazz mengontak saya. Ia menemukan blog saya ini ketika sedang mencari informasi mengenai lagu-lagu lama Indonesia dari era 50an. Ia tertarik dengan mixtape Renjana dan ingin mencari lagu-lagu sejenis yang dapat ia bawakan ulang. Musisi ini sedang dalam proses untuk memilih lagu-lagu Indonesia klasik dari era 50an yang akan diaransemen ulang dan direkam dalam sebuah album.

Saya sangat antusias begitu mengetahui ada musisi Indonesia yang ingin mendaur ulang lagu-lagu Indonesia klasik dari era yang belum banyak dijamah oleh musisi lainnya. Musik Indonesia 50an yang terakhir sukses didaur ulang oleh musisi jaman sekarang setau saya hanya "Aksi Kucing" yang dulu dinyanyikan oleh Nien Lesmana dan didaur ulang oleh White Shoes and the Couples Company serta "Pergi Tanpa Pamit" yang dipopulerkan oleh Nina Kirana dengan iringan orkes Saiful Bahri yang kemudian didaur ulang oleh Sore menjadi "Pergi Tanpa Pesan".

Sabtu, 02 Januari 2016

Dimas Ario's Favorite International Songs of 2015


Melanjutkan seri lagu-lagu favorit tahunan 2016, kali ini adalah lagu-lagu favorit dari mancanegara. Di list tahun ini ada nama-nama lama yang selalu menjadi favorit pribadi yang akhirnya merilis album baru. Ada juga nama-nama yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya namun lagu-lagu mereka berhasil menyita perhatian telinga sepanjang 2015. 

Lagu-lagu mancanegara dalam list ini yang menjadi oase ketika telinga lelah akan gempuran EDM Pop yang kini kerap berkumandang pada setiap speaker di ruang publik dan juga radio.

Dimas Ario's Favorite Local Songs of 2015


2015 adalah tahun yang sangat dinamis dan menggembirakan untuk dunia musik Indonesia. Lebih menggembirakan, tahun ini ada nama-nama dari Surabaya, Yogyakarta hingga Medan yang merilis karya-karya yang mempesona.

Di tahun ini beberapa album yang sudah dinanti sekian tahun lamanya akhirnya rilis. Ada beberapa nama yang sudah cukup lama berseliweran juga akhirnya merilis debut album penuhnya. Di antara itu ada album yang akhirnya menjadi pencapaian artistik tertinggi sepanjang karir band tersebut. Sebaliknya ada album yang ditunggu namun ternyata kualitasnya tidak sebagus album-album sebelumnya.

Sementara itu ada juga nama-nama baru yang semakin membuat 2015 sarat akan gizi musikal. Ada yang mendapat sorotan dan publikasi berlimpah, ada pula yang namanya tidak begitu bergaung walau musik mereka layak dan sepantasnya didengar oleh lebih banyak orang.

Seperti yang saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya menyusun lagu-lagu favorit dari para musisi atau band negeri ini yang patut mendapat apresiasi karena kualitasnya bukan karena pengaruh media, hype atau hubungan pertemanan.

Tidak ada rumusan baku bagaimana sebuah lagu dapat dikatakan bagus atau tidak. Ukurannya kembali ke selera dan preferensi masing-masing yang terbentuk dari apa yang telah kita dengar, baca, tonton sejak dulu.

Secara umum, lagu-lagu yang ada di list ini saya bagi dalam tiga ketegori: enak, keren dan indah. Ada beberapa lagu yang mencakup ketiganya. Ada juga yang hanya memiliki satu faktor saja. Tentunya adanya ketiga faktor ini merupakan dalih bagi saya yang terlalu malas untuk menulis deskripsi atau keunggulan dari masing-masing lagu. :D

Selamat mendengarkan!

Jumat, 13 November 2015

(Playlist) Sanchome


Dari dulu saya tidak pernah benar-benar mendalami musik-musik dari Jepang. Hanya sebatas kenal yang populer saja. Seperti banyak anak Indonesia yang lahir di awal 80an, perkenalan pertama saya dengan musik Jepang melalui soundtrack film-film superhero mereka yang saya tonton dengan khusyuk waktu SD. Mulai dari Goggle V, Kamen Rider, Gaban, Ultraman, dan masih banyak lagi.

Duduk di bangku SMP, tepatnya sewaktu jaman tahun-tahun awal kursus bas, saya mengenai Casiopea dan Jimsaku dengan bassist akrobatik yang bernama Tetsuo Sakurai. Lalu di jaman kuliah, saya jadi kenal L'arc-en-Ciel gara-gara tetangga sebelah kamar di kos adalah penggemar berat mereka. Di jaman kuliah juga saya mengenal scene Shibuya-kei dengan deretan artistnya seperti Pizzicato Five, Fantastic Plastic Machine, Cornelius, Cibo Matto, Kahimi Karie,

Selain nama-nama tersebut, rasanya saya tidak pernah secara khusus mengulik musik-musik Jepang lainnya. Beberapa nama sempat dengar dan cocok di telinga namun tanpa pernah cari tahu lebih dalam.
Jumat, 17 April 2015

Seni Ketidakmungkinan

Sebagai generasi millenial, saya dan kalian semua yang lahir  di awal 80an hingga awal 2000an, pasti terbiasa dengan apa yang namanya multitasking. Apa yang kita lakukan sehari-hari dengan smartphone saja sudah termasuk multitasking. Misalnya sambil ngescroll timeline social media, sambil dengar lagu dan sesekali jawab chat.


Senin, 30 Maret 2015

Soundtrack Film Indonesia Terbaik Sepanjang Masa


Peran lagu dalam film adalah salah satu unsur penting yang dapat membuat sebuah gambar bergerak menjadi lebih hidup. Lagu-lagu soundtrack yang baik tidak hanya yang lekat dalam ingatan penonton, namun juga dapat memberi nyawa pada film.

Dalam sejarah film Indonesia, sudah banyak lagu soundtrack yang meraih kepopuleran yang sama dengan filmnya. Namun ada juga beberapa soundtrack yang secara artistik bagus namun tidak cukup populer di masyarakat. 

Berikut ini adalah sepuluh lagu soundtrack film Indonesia terbaik menurut saya. Lagu-lagu ini sebagian besar dibuat khusus untuk film. Ada juga lagu populer yang telah ada sebelumnya namun secara khusus didaur ulang untuk keperluan film. 

Terbaik tidak melulu terlaris, namun terbaik di sini adalah lagu-lagu soundtrack yang memiliki pengaruh besar untuk dapat menghidupkan scene-scene tertentu atau filmnya secara keseluruhan.

Selasa, 24 Maret 2015

(Playlist) Bersendiri: Bukan Lagu-Lagu Kesepian

Belum lama ini saya diminta oleh seorang kawan untuk membuat playlist dengan tema kesendirian. Awalnya saya sempat mengira ini semacam playlist galau. Karena selama ini kesendirian identik dengan perasaan sedih.

Kawan saya ini baru membuat sebuah blog yang ia beri nama www.bersendiri.com. Dalam blognya, kesendirian dirayakan dengan suka cita karena dapat membawa begitu banyak warna.